High-Technology Entrepreneurship
A local mirror of Stanford University Prof Tom Byer’s lecture note :
Session 1 Session 2 Session 9 Session 10 Session 20
Accounting Marketing Finance Case Study
Entrepreneurship untuk orang MIPA
Personal Finance Management by Jeff Madura
Ch01 Ch02 Ch03 Ch04 Ch05 Ch06 Ch07
Ch08 Ch09 Ch10 Ch11 Ch12 Ch13 Ch14
Ch15 Ch16 Ch17 Ch18 Ch19 Ch20 Ch21
Strategi dan Inovasi Pengembangan Success Skills
Information Security and e-Government AMIKOM e-Commerce Payment Systems STIMIK AKI Semarang
Diskusi Kejahatan Internet FH UGM dan Bank Indonesia Okt 2003 hotel Radisson




6 users commented in " Other Interest "
Follow-up comment rss or Leave a TrackbackAgak aneh adalah komentar banyak orang tentang pilihan Pak Hidayat Ketua MPR untuk
memperisteri dr. Diana Abbas Thalib. Salah satu komentarnya adalah “Lho, Pak Hidayat kok
ternyata memilih wanita yang cantik juga??” Dr. Diana adalah seorang dokter dan direktur rumah sakit Aliyah (jadi tidak hanya cantik, tetapi kaya, pinter, solihah dan dari keturunan orang
baik-baik)
Rasulullah SAW bersabda : “Seorang wanita dipilih untuk diperisteri atas dasar kecantikannya,
hartanya, keturunannya, atau agamanya. Maka pilihlah atas dasar agamanya niscaya engkau akan sukses (ungkapan literalnya sebenarnya adalah “taribat yadak”– tanganmu berdebu)
Sabda Rasulullah SAW tidak bermakna kita memilih isteri HANYA atas dasar agamanya saja. Memang hal ini bisa digambarkan seolah-olah ada kurva trade-off 4-dimensi. Dan kita terbiasa
terdidik bahwa maksimisasi sebuah parameter berimplikasi pada minimisasi parameter lainnya.
Contoh sederhana adalah kita selalu mengira bahwa
1.orang kaya pasti tidak soleh dan tidak ilmiah
2.orang soleh pasti tidak kaya dan tidak ilmiah
3.orang ilmiah pasti tidak soleh dan tidak kaya
(ini hanya tiga buah titik pada kurva trade-off 4-dimensi tadi yang mungkin memiliki ribuan /jutaan titik yang memenuhi tujuan kita tanpa melanggar constraints — kendala)
Yang kita lupa adalah bahwa, dalam optimisasi, kita bisa saja memperoleh sweet spot (yakni kondisi di mana semua paramater bernilai tinggi i.e wanita cantik, kaya, keturunan bangsawan, dan solihah).
Contoh lain adalah ada orang kaya yang ilmiah dan soleh, atau orang soleh yang kaya dan ilmiah, atau orang ilmiah yang kaya dan soleh (misalnya Nabi Sulaiman).Note : 3 paramater ini hanya sebagai contoh. Mungkin ada orang yang mencapai sweet spot pada lebih banyak lagi parameter – Nabi Muhammad SAW adalah contoh titik maksimum untuk banyak sekali parameter ini).
Hadits Nabi tadi hanya mengingatkan kita bahwa dalam pemilihan calon isteri tidak boleh mengesampingkan faktor agama.
Imam Al-Ghazaliy penulis buku Ihya Ulumuddin (menghidupkan ilmu-ilmu agama) mengatakan bahwa isteri yang cantik lebih menjaga sang suami dari godaan wanita lain.
Komentar banyak kalangan tadi, hanya menggarisbawahi bahwa ummat sering memiliki harapan-harapan (yang mungkin tidak masuk akal) terhadap sikap ulamanya, dan sebaliknya, ulama bisa saja tergelincir ke dalam sikap menuruti semua keinginan dan harapan ummatnya.
Banyak kawan yang telah lebih lama menduda dibandingkan Dr. Hidayat. Tetapi hingga bertahun-tahun menduda, ternyata “seolah-olah” justru “enjoy” dengan status dudanya. Mungkin Dr. Hidayat berbeda. Banyak kalangan yang membantu Pak Hidayat menemukan “sweet spot” tadi. Sementara banyak kawan yang memiliki banyak constraints – misalnya mencari pengganti isterinya yang telah wafat yang bisa cocok dengan anak-anaknya. TETAPI, dalam optimasi atau optimisasi (?), keberadaan kendala (constraints) justru memperkecil feasible region – daerah yang memuat titik-titik kandidat solusi. Dengan sempitnya feasible region, pencapaian solusi optimal menjadi semakin cepat.
Sabda Rasul : “Mukmin yang kuat lebih dicintai Allah dari pada mukmin yang lemah tetapi masing-masing memiliki kelebihan. Karena itu berusahalah sekuat tenaga untuk mencapai keunggulan-keunggulan itu. Ketika ditimpa kegagalan, janganlah mengatakan seandainya dulu aku lakukan ini dan itu karena seandainya-seandainya ini membuka peluang bagi setan untuk menggoda”
Terjemahan kata solihah ke dalam bahasa Inggris (virtuous woman – wanita yang memiliki banyak nilai positif dalam diri dan kepribadiannya) nampaknya lebih memiliki “sense” yang tepat. Kata solihah sering dimaknai secara sempit dalam masyarakat kita.
Surga Allah tidak hanya untuk orang miskin. Surga Allah terbuka lebar bagi orang soleh, bagi orang kaya, bagi orang pinter, bagi pemimpin, dsb.
Wallahu a’lam (And Allah Knows Best)
Refleksi Diri 22 April 2008 ditulis di Guest House PT Chevron, Duri, Riau.
–Jazi Eko Istiyanto
Associate Professor of Electronics and Instrumentation
Physics Department
Gadjah Mada University
http://www.jazieko.com
Leave A Reply