Saya ingin share dengan teman-teman (tanpa maksud sombong) karena
saya yakin teman-teman tidak sempat membaca buku-buku yang
di luar bidang ilmu atau merasa bahwa membaca buku di luar bidang
adalah “dosa”. (??)
Saya biasakan untuk membeli at least satu buku di luar bidang ilmu (NB.
memangnya yang di dalam bidang ilmu itu yang mana?) setiap bulan. Buku
berbahasa Inggris untuk menjaga “level TOEFL” saya. Skor tertinggi
yang pernah saya capai adalah 607 (1986) dan skor terendah (1985) 580.
(saya kalah dibanding banyak mahasiswa S-2 Fisika yang dari Depag. Banyak
di anatara mereka yang TOEFLnya 630-an)
Salah satu buku yang baru saya baca 1 chapter adalah The Logic of Life,
karya Tim Harford. Saya sudah membaca buku Tim Harford sebelumnya yaitu
The Undercover Economist. Saya juga baru menyelesaikan membaca buku
Wikinomics, karya Don Tapscott. (insya’a Allahu akan saya share juga
di sini dan di blog saya http://www.jazieko.com)
Buku The Logic of Life (Hardcover, Rp.265.000, di Periplus) diawali dengan
concern ortu di USA yang mengkhawatirkan data bahwa mayoritas anak muda
berumur 12 tahun sudah banyak melakukan oral sex.
Jangan salah faham dulu. Ternyata ortu USA tidak mengkhawatirkan anak-anak
belasan tahunnya melakukan “penetrative sex”.
Tim Harford mengangkat “thesis” nya dengan mengatakan bahwa “rational
people respond to trade-off: incentives and lossess”. Anak muda
USA cenderung “oral sex” karena “penetrative sex” lebih mahal - perlu
kontraseptif (condom etc.) dan punya resiko kehamilan dan pengguguran
kandungan. Lebih jauh Tim melihat dampak UU tentang pelarangan aborsi
terhadap perilaku sex anak muda.
Sayangnya Tim tidak menyimpulkan bahwa yang benar adalah “halal sex”
yang dilakukan oleh sepasang suami isteri. Ini karena Tim adalah ekonom
Barat dan hanya melihat aspek mengapa suatu tindakan dilakukan dan
pengaruh reward & punsihment atas pilihan-pilihan tindakan.
Implikasi untuk JF dan FMIPA : dosen/karyawan akan memilih kegiatan
yang menghasilkan income dengan resiko rendah. Apakah ini berarti
lembaga seperti JF akan menjadi “inertial” dan “sluggish” serta
“lethargic” yang lebih menyukai hal-hal yang sudah ada, serta
reluktan terhadap gagasan-gagasan baru. Tentu, mengikut Tim, tergantung
“persepsi” masing-masing dosen atas keuntungan yang akan diperoleh
dengan bergerak dari suatu titik A ke titik B pada grafik impact vs.
strategy.
Padahal untuk bisa memahami trade-off, diperlukan financial literacy.
Suatu tindakan/kebijakan seringkali kita tolak atau terima tanpa
melihat berbagai sisi semata-mata karena ketidaktahuan kita tentang
dampak tindakan/kebijakan itu.
(Berita republika hari ini, “apakah benar minyak naik karena implementasi
smart card?”. Apakah benar IT mengakibatkan mahalnya BBM?”).
Sebaliknya untuk yang faham, bisa saja kita menolak/menerima berdasarkan
apakah ia menguntungkan kita atau tidak.
Wallahu a’lam




3 users commented in " The Logic of Life "
Follow-up comment rss or Leave a TrackbackSebenarnya barat itu beradab tidak ya pak? Katanya pemegang peradaban tinggi disana. Namun terkadang juga aneh2 pemikirannya….
sepertinya memang agama bukanlah sebuah barang yang bersifat fundamental di US ya pak .. bahkan percaya kepada Tuhan dan takdir aja saya gak yakin tuh banyak yang begitu … apa mungkin begitu pak ?
Banyak yang bersikap sebagai “free thinkers”. Ketika saya kuliah di UK, banyak gereja yang kosong. Mereka menganggap agama sebagai belenggu kreativitas. Pembicaraan ilmiah (scientific) mengeluarkan “faktor” Tuhan. Jadi hanya yang kasat mata saja. Saya dulu pernah baca sebuah buku yang menyebut buku The Philosophy of Redemption sebagai penyebab sekularisasi sains.
Kita di Indonesia juga begitu. Kalau kita mencoba memasukkan act of God (nasib) atau Tuhan dalam diskusi sains, maka tulisan kita mungkin tidak dianggap di bidang sains tetapi di disiplin antar bidang.
Apa memang harus begitu ya?
Leave A Reply