<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress/2.3.3" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>
<channel>
	<title>Comments on: The Logic of Life</title>
	<link>http://jazieko.com/2008/04/29/the-logic-of-life.jazi</link>
	<description>Associate Professor of Electronics and Instrumentation</description>
	<pubDate>Thu, 09 Sep 2010 14:21:41 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.3.3</generator>
		<item>
		<title>By: Karismawan</title>
		<link>http://jazieko.com/2008/04/29/the-logic-of-life.jazi#comment-315</link>
		<dc:creator>Karismawan</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 14 Jan 2009 09:07:06 +0000</pubDate>
		<guid>http://jazieko.com/2008/04/29/the-logic-of-life.jazi#comment-315</guid>
		<description>Saya memiliki keyakinan bahwa sains pada tingkatan yang lebih tinggi sebenarnya tidak bisa dilepaskan dari faktor Tuhan. Terlepas itu dipandang secara filsafat, atau secara lebih teknis. Hanya saja untuk sekarang sains belum pada tataran pengungkapan hal tersebut. Atau mungkin sebenarnya peradaban kita yang berkembang ke arah yang salah. Sejauh yang saya ketahui, sains selama ini hanya berusaha menemukan cara-cara manusia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, bagaimana agar dapat hidup dengan kualitas yang lebih baik. Bukankah pemikiran ini sama saja dengan pemikiran binatang yang selalu berusaha memenuhi kebutuhannya yang bersifat material. Lalu dimana sisi spiritualitasnya?
Sayang sekali dalam usaha manusia meningkatkan kualitas hidupnya, yang terjadi malah penurunan kualitas hidup.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Saya memiliki keyakinan bahwa sains pada tingkatan yang lebih tinggi sebenarnya tidak bisa dilepaskan dari faktor Tuhan. Terlepas itu dipandang secara filsafat, atau secara lebih teknis. Hanya saja untuk sekarang sains belum pada tataran pengungkapan hal tersebut. Atau mungkin sebenarnya peradaban kita yang berkembang ke arah yang salah. Sejauh yang saya ketahui, sains selama ini hanya berusaha menemukan cara-cara manusia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, bagaimana agar dapat hidup dengan kualitas yang lebih baik. Bukankah pemikiran ini sama saja dengan pemikiran binatang yang selalu berusaha memenuhi kebutuhannya yang bersifat material. Lalu dimana sisi spiritualitasnya?<br />
Sayang sekali dalam usaha manusia meningkatkan kualitas hidupnya, yang terjadi malah penurunan kualitas hidup.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Jazi Eko</title>
		<link>http://jazieko.com/2008/04/29/the-logic-of-life.jazi#comment-32</link>
		<dc:creator>Jazi Eko</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 22 May 2008 21:59:54 +0000</pubDate>
		<guid>http://jazieko.com/2008/04/29/the-logic-of-life.jazi#comment-32</guid>
		<description>Banyak yang bersikap sebagai "free thinkers". Ketika saya kuliah di UK, banyak gereja yang kosong. Mereka menganggap agama sebagai belenggu kreativitas. Pembicaraan ilmiah (scientific) mengeluarkan "faktor" Tuhan. Jadi hanya yang kasat mata saja. Saya dulu pernah baca sebuah buku yang menyebut buku The Philosophy of Redemption sebagai penyebab sekularisasi sains.

Kita di Indonesia juga begitu. Kalau kita mencoba memasukkan act of God (nasib) atau Tuhan dalam diskusi sains, maka tulisan kita mungkin tidak dianggap di bidang sains tetapi di disiplin antar bidang.

Apa memang harus begitu ya?</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Banyak yang bersikap sebagai &#8220;free thinkers&#8221;. Ketika saya kuliah di UK, banyak gereja yang kosong. Mereka menganggap agama sebagai belenggu kreativitas. Pembicaraan ilmiah (scientific) mengeluarkan &#8220;faktor&#8221; Tuhan. Jadi hanya yang kasat mata saja. Saya dulu pernah baca sebuah buku yang menyebut buku The Philosophy of Redemption sebagai penyebab sekularisasi sains.</p>
<p>Kita di Indonesia juga begitu. Kalau kita mencoba memasukkan act of God (nasib) atau Tuhan dalam diskusi sains, maka tulisan kita mungkin tidak dianggap di bidang sains tetapi di disiplin antar bidang.</p>
<p>Apa memang harus begitu ya?</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Lufty</title>
		<link>http://jazieko.com/2008/04/29/the-logic-of-life.jazi#comment-29</link>
		<dc:creator>Lufty</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 10 May 2008 09:51:03 +0000</pubDate>
		<guid>http://jazieko.com/2008/04/29/the-logic-of-life.jazi#comment-29</guid>
		<description>sepertinya memang agama bukanlah sebuah barang yang bersifat fundamental di US ya pak .. bahkan percaya kepada Tuhan dan takdir aja saya gak yakin tuh banyak yang begitu ... apa mungkin begitu pak ?</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>sepertinya memang agama bukanlah sebuah barang yang bersifat fundamental di US ya pak .. bahkan percaya kepada Tuhan dan takdir aja saya gak yakin tuh banyak yang begitu &#8230; apa mungkin begitu pak ?</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: pinandhito</title>
		<link>http://jazieko.com/2008/04/29/the-logic-of-life.jazi#comment-25</link>
		<dc:creator>pinandhito</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 30 Apr 2008 11:43:28 +0000</pubDate>
		<guid>http://jazieko.com/2008/04/29/the-logic-of-life.jazi#comment-25</guid>
		<description>Sebenarnya barat itu beradab tidak ya pak? Katanya pemegang peradaban tinggi disana. Namun terkadang juga aneh2 pemikirannya....</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Sebenarnya barat itu beradab tidak ya pak? Katanya pemegang peradaban tinggi disana. Namun terkadang juga aneh2 pemikirannya&#8230;.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
